Minggu, 19 November 2017

Lestarikan Bahasa Jelajah Sastra lewat Riung Sastra

Lestarikan Bahasa Jelajah Sastra lewat Riung Sastra
Oleh Rezza Budhi Prasetyo

                Jika anda melewati lorong sepanjang gedung S sampai gedung R Kampus A UNJ pada tanggal 23-27 Oktober 2017 anda akan disuguhi berbagai tulisan-tulisan kosakata bahasa Indonesia di dinding-dindingnya.
                Ya pada tanggal tersebut BEM Sastra Indonesia mengadakan acara Riung Sastra 2017. Tema acara tersebut adalah “Jelajah Sastra Lestarikan Bahasa”. Sesuai dengan tema, melestarikan bahasa Indonesia. maka Riung Sastra menyuguhi anda dengan pameran bahasa.
                Di pameran tersebut, mencantumkan kesalahan berbahasa di ruang publik. Kesalahan tersebut difoto lalu di betulkan kesalahannya. Salah satu contohnya adalah foto sebuah Plang bertuliskan “Pijet Urut.” Maka dalam pameran tersebut dijelaskan letak kesalahannya dimana kata Pijet tidak ada dalam KBBI melainkan pijat yang ada.
                Ada sekitar 15 foto yang ditampilkan pada pameran kesalahan berbahasa di muka publik. Selain pameran kesalahan, Riung Sastra juga memamerkan kata-kata yang sering salah pengejaan. Seperti kata teoritisseharusnya adalah teoretis. Kata-kata yang dipamerkan sekitar ada 30 kata. Termasuk kata Apotek, Silakan dll. Tentu hal ini membukakan pikiran masyarakat yang selama ini sering salah menuliskan ejaan pada kata-kata tersebut. Dan menumbuhkan minat berbahasa yang baik pula.
                Selain itu, Riung Sastra juga membuka bazar buku di depan gedung R. Bazar buku ini tidak hanya tentang buku-buku sastra namun juga buku-buku ilmu bahasa seperti buku Sintaksis, wacana, linguistik umum. Bahkan ada beberapa buku filsafat.
                Ya bazar buku tersebut juga sesuai dengan tema jelajah sastra. Tema tersebut juga terasa lewat lomba-lomba sastra seperti lomba menulis puisi, cerpen dan essai. Serta ada juga lomba baca puisi dan musikalisasi puisi.
                “Dengan adanya riung sastra diharapkan bisa membantu para Mahasiswa lebih mencintai sastra dan bahasa Indonesia” tutur salah seorang panitia Riung Sastra 2017.
                Mahasiswa UNJ pun menyambut positif acara tersebut dan banyak banyak dari mereka yang tergugah untuk berbahasa lebih baik lagi. Riung sastra ini diadakan untuk memperingati bulan bahasa di Indonesia yaitu bulan Oktober.
                Selain dari dekorasi, Riung Sastra 2017 juga mengundang pak Uuk Suhardi, yaitu seorang editor senior Tempo. BEM Sastra Indonesia bekerja sama dengan Tempo Institute mengadakan seminar dengan tema “Bedah Bahasa Indonesia Bersama Tempo” dan disesi kedua seminar ada Istiqomatul Hayati (koordinator Indoensiana) mengisi materi dengan tema “Ngeblog Asyik Bersama Indonesiana” seminar ini berlansung pada tanggal 25 Oktober 2017 dengan harga tiket yang sangat murah, hanya 5 ribu rupiah.
                Acara ini ditutup tanggal 27 Oktober dengan penampilan-penampilan dari perwakilan masing-masing angkata Sastra Indoensia.


                

Senin, 09 Januari 2017

Analisis perluasan kalimat pada berita online

Analisis Perluasan Kalimat pada berita online
(Oleh Rezza Budhi Prasetyo)

Bab I
Pendahuluan
1.1.Latar Belakang
Keterangan merupakan salah satu fungsi sintaksis, biasanya keterangan berada di belakang kalimat atau bisa pula berada di belakang kalimat. Keterangan dalam penggunannya bisa sebagai penambah informasi dalam kalimat.
Dalam sebuah kalimat tunggal, terkadang agar informasi sampai perlu ditambahkannya keterangan. Hal itu perlu dilakukan agar informasi yang diberikan oleh penutur lebih akurat. Penambahan keterangan ini dinamakan perluasan kalimat.
Perluasan kalimat tunggal di sini maksudnya adalah perluasan kalimat tunggal dengan penambahan berupa kata atau frasa. Biasanya, perluasan kalimat ini menduduki fungsi sebagai keterangan. Menurut Hera (2014:175) pada umumnya, keterangan dalam kalimat bersifat tidak wajib, dalam arti bahwa kalimat pun tanpa keterangan telah memiliki makna mandiri. Karena itulah valin (2005:3) memasukan unsur keterangan sebagai unsur tambahan dalam kontruksi klausa.
Perluasan kalimat sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti pada percakapan maupun pada media-media cetak. Media cetak, seperti koran atau majalah keberadaanya kini mulai tergantikan dengan media online atau berita online. Dalam fungsinya yang sebagai penyebar informasi, bisa dibilang media online lebih bisa menjangkau berbagai lapisan masyarakat ketibang media cetak. Hal itu dikarenakan dewasa ini banyak masyarakat yang mulai melek internet mulai dari kalangan atas sampai kalangan bawah.
Melalui makalah ini, diharapkan kita jadi bisa mengetahui perluasan-perluasan yang digunakan dalam media online.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang diatas, kita bisa mendapatkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengaplikasian perluasan kalimat pada kalimat tunggal di berita online
2.      Bagaimana analisis perluasan kalimat pada kalimat tunggal di berita online




1.3.Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah
1.      Mengetahui bagaimana pengaplikasian perluasan kalimat pada kalimat tunggal di berita online
2.      Mengetahui hasil analisis perluasan kalimat pada kalimat tunggal di berita online

Bab II
Landasan Teori
1.1. Fungsi Sintaksis
Fungsi sintaksis dalam kalimat tunggal meliputi subjek (s), predikat (p), objek (o),  pelengkap (pel) dan keterangan (k). berdasarkan fungsi sintaksis ini, terlihat beberapa bentuk kalimat, misalnya S-P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-Ket, S-P-O-Pel, S-P-O-Ket. Dilihat dari bentuk tadi terlihat bahwa predikat dalam bahasa Indonesia memiliki fungsi yang dominan karena menentukan kehadiran unsur lain dalam kalimat.
Kalimat pun dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan fungsi sintaksisnya, yaitu (1) berdasarkan jumlah subjek dan predikatnya (jumlah klausa), kalimat diklasifikasikan menjadi kalimat tunggal dan kalimat majemuk; (2) berdasarkan kelengkapan fungsi sintaksisnya, kalimat diklasifikasikan menjadi kalimat lengkap dan kalimat tidak lengkap, (3) berdasarkan susunan fungsi sintaksisnya, kalimat diklasifikasikan menjadi kalimat biasa, kalimat inversi dan kalimat permutasi.

1.2.Perluasan Kalimat Tunggal
Seperti yang telah disebutkan di latar belakang, Perluasan kalimat tunggal di sini maksudnya adalah perluasan kalimat tunggal dengan penambahan berupa kata atau frasa. Perluasan ini tentu membuat informasi yang terkandung dalam kalimat menjadi lebih lengkap.
Dalam proses perluasan kalimat tunggal ini, terdapat beberapa cara perluasan. Yaitu dengan penambahan unsur keterangan, dengan penambahan unsur vokatif dan dengan penambahan unsur aposisi.
Dalam perluasan dengan unsur keterangan, jumlah keterangan yang dapat dimasukan lebih dari satu keterangan yang dapat ditambahkan pada kalimat bisa lebih dari satu. Hal yang penting, kalimatnya tetap efektif, gramatikal, dan maknanya tetap berterima.
Perluasan dengan unsur vokatif yaitu perluasan dengan penambahan unsur vokatif. Unsur vokatif sendiri adalah unsur tambahan dalam ujaran berupa nomina atau frasa nominal yang menyatakan orang yang disapa. Unsur voaktif berisfat manasuka dan letaknya dapat di tengah, di awal maupun di akhir. Fungsi utamanya adalah meminta perhatian orang yang disapa, terutama jika ada pendengar lain (Alwi, dkk., 2003:374-375)
Perluasan dengan unsur aposisi atau konstruksi aposisi. Dua unsur dalam kalimat disebut beraposisi jika kedua unsur itu sederajat dan mempunyai acuan yang sama atau, paling tidak, salah satu mencakupi unsur lainnya.

Bab III
Pembahasan

3.1. Berita Online
Sopir Tertangkap, DPO Perampok Pulomas Tinggal 1 Orang


Jakarta - Polisi berhasil membekuk Alfins Bernius Sinaga, joki atau sopir perampokan sadis di Pulomas, Jakarta Timur, yang sebelumnya menjadi buron. Dengan begitu, tinggal satu orang lagi dari komplotan perampok sadis yang masih diburu polisi, yaitu Yus Pane.


Alfins Bernius Sinaga ditangkap tim Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Timur, dan Polres Depok yang dipimpin oleh AKBP Hendy F Kurniawan dan AKBP Herry Heryawan, di Villamas Indah blok C, Bekasi Utara, Rabu (28/12/2016), selepas magrib tadi.

Polisi terpaksa melumpuhkan Alfins dengan timah panas karena melawan dan berusaha melarikan diri saat hendak ditangkap.

"Kami akan melakukan tindakan tegas dan terukur bagi pelaku yang melawan petugas," ujar Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Rudy Heriyanto Adi Nugroho kepada detikcom, Rabu (28/12).

Sebelumnya, Ramlan Butarbutar dan Erwin Situmorang ditangkap saat bersembunyi di rumah kontrakan di Rawa Lumbu, Bekasi, Jawa Barat, siang tadi. Saat penyergapan, Ramlan ditembak mati polisi karena berusaha melarikan diri dan melawan polisi. 

Sedangkan Erwin ditembak di bagian kaki karena berusaha kabur. Kini, polisi tinggal memburu satu DPO lagi dari kawanan perampok sadis ini, yaitu Yus Pane. 
(idh/fdu)


3.2. Hasil Analisis
Dari berita diatas terdapat beberapa kalimat tunggal yang mendapat perluasan kalimat:
1.      Polisi berhasil membekuk Alfins Bernius Sinaga, joki atau sopir perampokan sadis di Pulomas, Jakarta Timur, yang sebelumnya menjadi buron
2.      Polisi terpaksa melumpuhkan Alfins dengan timah panas karena melawan dan berusaha melarikan diri saat hendak ditangkap.
3.      Saat penyergapan, Ramlan ditembak mati polisi karena berusaha melarikan diri dan melawan polisi..
Dengan hasil analisis sebagai berikut:
Add caption
1.      Kalimat 1: Polisi berhasil membekuk Alfins Bernius Sinaga, joki atau sopir perampokan sadis di Pulomas, Jakarta Timur, yang sebelumnya menjadi buron.
Dalam kalimat 1 terdapat perluasan kalimat yang bersifat perluasan keterangan pada fungsi sintaksis objek

2. Polisi terpaksa melumpuhkan Alfins dengan timah panas karena melawan dan berusaha melarikan diri saat hendak ditangkap
Pada kalimat 2 terdapat perluasan keterangan alat yaitu dengan timah panas.

3. Saat penyergapan, Ramlan ditembak mati polisi karena berusaha melarikan diri dan melawan polisi.


Pada kalimat ketiga terdapat perluasan keterangan waktu kejadian yaitu Saat penyergapan.


Bab IV
Penutup
4.1. Kesimpulan
Penggunaan perluasan kalimat terkadang memang tidak selalu di pakai dalam penggunaannya sehari-hari. Namun, terkadang perluasan kalimat justru bisa dianggap penting karena bisa menambahkan nilai informasi yang terkandungdalam sebuah kalimat.

Apalagi dalam sebuah wacana berita, perluasan kalimat dianggap perlu karena dikhawatirkan informasi yang disampaikan bisa menjadi informasi yang salah. Dengan adanya perluasan kalimat, informasi yang diperikan jadi dipersempit sehingga lebih akurat.

Daftar Pustaka


Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Khairah, Miftahul; Sakura Ridwan. (2014). Sintaksis Memahami Satuan Kalimat Prespektif Fungsi. Jakarta: Bumi Aksara.

Rabu, 05 Oktober 2016

Resume Kuliah umum

Resume Kuliah Umum bersama Berthold Dhamsauser

Berthold, adalah seorang dosen di universitas Bonn. Dia memiliki kecintaan tersendiri terhadap bahasa Indonesia. Dia bahkan memiliki istri orang Indonesia, dan anak-anaknya juga orang Indonesia.sejak tahun 80an dia rajin menerjemahkan puisi-puisi Indonesia ke dalam bahasa Jerman, maupun sebaliknya.
                Dalam menerjemahkan puisi-puisi atau sajak-sajak, Berthold biasanya ditemani oleh temannya yang sesama sastrawan yaitu Agus S. Sarjono. Menurutnya, saat menerjemahkan puisi kedalam bahasa lain, banyak sekali kendala yang terjadi. Salah satunya adalah karena bahasa Indonesia banyak terjadi keambiguitasan. Walaupun hal itu merupakan kendala, tapi hal itu juga merupakan keunikan bahasa Indonesia.
Kalau dalam bahasa Jerman, Menerjemahkan artinya sama seperti penyeberang. Hal ini unik kalau ditilik dari segi filosofis. Karena, bisa diartikan pula penerjemahkan sama saja menyebrangi bahasa diatas jembatan.
Beberapa hal yang perlu perhatikan saat menjadi penerjemah adalah:
·         penerjemah adalah bagian dari sastra nasional
·         menerjemahkan bertujuan memperkaya sastra nasional
·         isi sebuah karya lebih penting daripada bentuknya
·         penerjemah wajib:
a.       Menguasai bahasa sasaran seperti seorang sastrawan
b.      Memahami latar karya yang diterjemahkan

·         Bahasa sumber tidak perlu dikuasai karena bisa menggunakan terjemahan interlinear seoarng filolog.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Kenangan Kopi Susu

Kenangan Kopi Susu

Entah apa yang membuat dada ini tak henti guncang
Entah itu kopi susu yang kuseruput atau senyummu?
Atau mungkin senyummu yang terbuat dari kopi susu?
Aku tak tahu

Sungguh, senyum itu buatku candu
Kita lesehan dikerumuni malam
Kau mendongeng
Aku hanya bisa menikmati
Cangkir-cangkir bisu itu jadi saksi
tentang aku yang menikmati masa lalu kita

bahkan saat hati ini pulang
kafein masih menggila
meracau pikiran
tak henti-henti
duduk di motor butut
dekat-mendekati
aku cinta-mencintai
menjungkir balik waktu
malam menghakimi diriku
yang memikirkan kembali dirimu
aku hanyut

kemayoran, 20 agustus 2016


Minggu, 17 Juli 2016

Sajak Kau

Kau
(Rezza B. Prasetyo)

Bagaimana bisa cerita-ceritamu labuh
hanya saat kau perlu
sementara kau tak pernah bisa menjatuhkan jangkar
di samudera ini
yang ombaknya bergolak keras bersitahan dengan
laranya

angin malam selalu melarungkan kenangan tentangmu
lewat kelebat-kelebat di bantalku yang
berupa kaktus berupa mawar berupa rafflesia

sudah lengkap bukan?
Dan bagian terberatnya bukan perihal mengetahui
Bahwa cinta ini seperti tepukan sebelah tangan
Tapi mengetahui fakta bahwa kamu tak bisa mencintaiku
Seberapa beratpun kamu berusaha

Jakarta, 18 Juli 2016


Sajak Bunuh Membunuh

Sajak Bunuh Membunuh
(Oleh: Rezza B. Prasetyo)

Cinta adalah bunuh diri
ketika kau berjuang keras membuatnya bahagia
tapi dia membuatmu menangis keras bergelimpang lara

Cinta adalah bunuh diri
ketika kau hadir mendatangkan segala
tapi dia pergi meninggalkanmu sesuka

Tapi cinta juga membuatmu menjadi seorang pembunuh
saat dia menghampiri dengan segenap cinta
lalu kau beri harap menaruh canda
menyuguhkan beraneka janji penuh gula
lalu kau hilang entah  kemana
foila!!
kau berhasil membuatnya mati tapi hidup
persis sepertimu padaku


Jakarta, 11 Juli 2016

Senin, 20 Juni 2016

Analisis puisi menggunakan pendekatan feminisme

Analisis puisi menggunakan pendekatan feminisme


Sisi Feminim pada Puisi berjudul Cinta dan Kangen karya Helvy Tiana Rosa: Sebuah Kajian Feminisme

oleh Rezza Budhi Prasetyo


Abstrak
Artikel ini berjudul “Analisis puisi menggunakan pendekatan feminisme”. Rumusan masalah dalam artikel ini adalah bagaimana sisi feminisme dalam sebuah karya sastra. Karya sastra yang akan dianalisis dalam hal ini adalah puisi. Puisi didalamnya banyak mengandung perasaan dan emosi penulis. Hasil analisis mendeskripsikan bahwa hasil dalam anailisis menunjukan nilai-nilai feminisme terkandung yang terdapat dalam sebuah puisi.
Puisi yang akan dikaji dalam artikel ini adalah puisi berjudul “Kangen” dan “Cinta” karya Helvy Tiana Rosa. Dengan analisis dengan menggunakan pendekatan feminism ini, diharapkan dapat mengungkap sisi-sisi feminim dalam puisi tersebut.
Kata kunci: Feminisme, Puisi, Helvy Tiana Rosa, Cinta, Kangen




1.      Pendahuluan
Puisi memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah berfungsi sebagai penggerak perasaan penulisnya. Banyak orang bisa tergerak perasaannya ketika membaca puisi, sebut saja puisi-puisi Helvy Tiana Rosa. Kebanyakan puisinya berisi tentang bagaimana cara wanita menjatuhkan cintanya, atau bagaimana wanita ingin melupakan seseorang, atau juga tentang bagaimana cara seorang wanita rindu.
Untuk memahami isi dari puisi, bisa digunakan berbagai pendekatan, salah satunya adalah feminisme. Feminisme ini merupakan adalah kritik sastra yang memusatkan perhatianpada citra serta stereotip perempuan dalam karya sastra, meneliti kesalahpahaman tentang perempuan,dan meneliti sebab-sebab perempuan sering tidak diperhitungkan, bahkan nyaris diabaikan dalam kritik sastra. Dalam artikel ini, penulis mencoba untuk mengkaji puisi Helvy yang berjudul “Cinta” dan “Kangen” dengan menggunakan pendekatan feminism.
2.      Landasan Teori
A.    Puisi
Pengertian puisi
Puisi ialah perasaan penyair yang diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat, serta mengandung irama dan kata kiasan.  (Menurut Sri Suhita dalam buku materi ajar Kajian Puisi tahun 2010).
Hakikat Puisi
Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti hakikat puisi. Pertama adalah sifat seni atau fungsi seni, kedua yaitu kepadatan, dan ketiga adalah ekpresi tidak langsung.

I.          Fungsi Estetik
Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Menurut Rene Wellek, dan Warren dalam Pradopo (2009: 315) mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang di dalamnya fungsi estetiknya dominan, yaitu fungsi seninya yang berkuasa. Tanpa fungsi seni itu karya kebahasaan tidak dapat disebut karya (seni) sastra. Puisi sebagai karya sastra, maka fungsi estetiknya dominan dan di dalamnya ada unsur-unsur estetiknya. Unsur-unsur keindahan ini merupakan unsur-unsur kepuitisannya, misalnya persajakan, diksi (pilihan kata), irama, dan gaya bahasanya. Gaya bahasa meliputi semua penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu, yaitu efek estetikanya atau aspek kepuitisannya (Pradopo, 1994: 47). Jenis-jenis gaya bahasa itu meliputi semua aspek bahasa, yaitu bunyi, kata, kalimat, dan wacana yang dipergunakan secara khusus, untuk mendapatkan efek tertentu itu. Semua itu merupakan aspek estetika atau aspek keindahan puisi.

II.     Kepadatan
Pada penciptaan sajak itu merupakan aktivitas pemadatan. Dalam puisi tidak semua itu diceritakan. Yang dikemukakan dalam puisi hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita. Yang dikemukakan dalam puisi adalah esensi sesuatu. Jadi, puisi itu merupakan ekspresi esensi. Karena puisi itu mampat dan padat, maka penyair memilih kata dengan akurat (Altenbernd dalam Pradopo, 2009: 316).

III.    Ekspresi yang Tidak Langsung
Puisi itu sepanjang zaman selalu berubah. Riffaterre dalam Pradopo (2009: 316) mengemukakan bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu, puisi itu selalu berubah. Perubahan itu disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik. Namun, satu hal yang tidak berubah, yaitu puisi itu mengucapkan sesuatu tidak secara langsung. Ketidaklangsungan ekspresi ini disebabkan oleh tiga hal, yaitu penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti.


B.     Feminisme
Feminisme berasal dari kata  feminist yang berarti pejuang hak-hak kaum wanita, kemudian meluas menjadi feminism, yaitu suatu faham atau “isme” yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008: 410) feminisme disebut sebagai gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria.Definisi secara leksikal ini telah membawa pemahaman yang keliru di kalangan masyarakat. Fakih(2008) mengungkapkan, secara umum orang akan salah sangka atas feminisme yang dianggap hanya sebagai gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki.
Padahal seharusnya feminisme bukanlah upaya pemberontakan kaum perempuan terhadap kaum laki-laki, bukan pula merupakan upaya pemberontakan terhadap pranata sosial dan budaya seperti dalam perkawinan, dalam politk maupun dalam bidang pekerjaan. Inti dari feminisme adalah ketidakinginan wanita untuk dinomorduakan atau dijadikan sebagai kaum terpinggirkan.
Sasaran penting dalam analisis feminis menurut Suwardi Endaswara (2008: 146) adalah sedapat mungkin berhubungan dengan: (1) mengungkap karya­karya penulis wanita masa lalu dan masa kini; (2) mengungkap berbagai tekanan pada tokoh wanita dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang pria; (3) mengungkap ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri sendiri dalam kehidupan nyata; (4) mengkaji aspek ginokritik, memahami proses kreatif kaum feminis; dan (5) mengungkap aspek psikoanalisa feminis, mengapa wanita lebih suka hal yang halus, emosional, penuh kasih dan lain sebagainya.

Lalu munculah istilah membaca sebagai perempuan seperti yang telah dicetuskan oleh Culler, maksudnya adalah membaca dengan kesadaran membungkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang patriarkhat (Sugihastuti dan Suharto, 2605: 19).

Analisis novel dengan kritik sastra feminis berhubungan dengan konsep membaca sebagai perempuan, karena selama ini seolah-olah karya sastra ditujukan kepada pembaca laki-laki, dengan kritik ini muncullah pembaharuan adanya pengakuan akan adanya pembaca perempuan. Hal ini dapat dikatakan untuk mengurangi prasangka gender dalam sastra.

Kritik sastra feminis menurut Yoder (dalarn Sugihastuti dan Suharto, 2002: 5) diibaratkan quilt yang dijahit dan dibentuk dari potongan kain persegi pada bagian bawah dilapisi dengan kain lembut. Metafora ini mengibaratkan bahwa kritik sastra feminis diibaratkan sebagai alas yang kuat untuk menyatukan pendirian bahwa seorang perempuan dapat sadar membaca karya sastra sebagai perempuan.

Menurut Ratna (2005: 226) gerakan feminis secara khusus menyediakan konsep dan teori dalam kaitannya dengan analisis kaum perempuan. Sedangkan Ritzer dalam Ratna (2005: 231) feminis termasuk teori sosial kritis, teori yang melibatkan diri dalam persoalan pokok dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan sejarah, yang sedang dihadapi oleh kelompok-kelompok yang berada dalam kondisi tertindas. Dalam pandangan studi kultural, ada lima politik budaya feminis, yaitu a) feminis liberal, memberikan intensitas pada persamaan hak, baik dalam pekerjaan maupun pendidikan, b) feminis radikal, berpusat pada akar permasalahan yang menyebabkan kaum perempuan tertindas, yaitu seks dan gender, c) feminis sosialis dan Marxis, yang pertama memberikan intensitas pada gender, sedangkan yang kedua pada kelas, d) feminis postmodernis, gender dan ras tidak memiliki makna yang tetap, sehingga seolah-olah secara alamiah tidak ada laki-laki dan perempuan, dan e) feminis kulit hitam dan non Barat dengan intensitas pada ras dan kolonialisme (Ratna, 2005:228).
Dalam dunia sastra, feminisme dapat digunakan sebagai pendekatan dalam kritik sastra. Seperti yang diungkapkan oleh Kolodny dalam Djajanegara (2000: 19) menyatakan bahwa kritik sastra feminis membeberkan perempuan menurut stereotip seksul, baik dalam kesusastraan maupun dalam kritik sastra, dan juga menunjukkan bahwa aliran-aliran serta cara-cara yang tidak memadai telah (digunakan untuk) mengkaji tulisan perempuan secara tidak adil, tidak peka.
Sugihastuti (2002: 140) mengungkapkan bahwa kritik sastra feminis adalah sebuah kritik sastra yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia.





3.      Analisis dan Pembahasan
Puisi Pertama “Cinta”
Cinta
Aku mencintaimu sejak waktu, sejak bumi, sejak sukma, sejak bayi
Aku mencintaimu sampai laut, sampai langit, sampai darah, sampai mati

Setiap hari kucatat dan kupotret kau dalam batin
Kau menempel di buku-buku, di televisi, di gedung-gedung dan panggung pertunjukan,
juga pada angin dan debu pada napasku
Aku berjalan tersaruk mengendusi semua jejak yang kau tinggalkan
seperti pemburu yang saru

Panggil aku cinta
Bukan, aku bukan wanita khayalanmu
Aku yang mendambamu hingga ke paling lembah
Apakah kau percaya pada ada dan tiada?
Sebab aku mungkin ada, sebab aku mungkin hanya tiada
Sepotong diam yang tak henti mencinta
hingga penghujung senja

Kemayoran, 1988


A.    Tema
Tema puisi ini adalah cinta, hal ini bisa kita lihat dari banyaknya penggunaan kata cinta dalam puisi ini. seperti pada larik “Aku mencintaimu sejak waktu, sejak bumi, sejak sukma, sejak bayi” atau “sepotong diam yang hanya tak henti mencinta”.

B.     Diksi
Diksi yang digunakan penyair dalam puisi ini sangat indah dan tidak biasa, seperti pada larik “aku yang mendambamu hingga ke paling lembah” yang maksudnya adalah si penyair sangat mendambakan atau menginginkan orang yang dimaksudnya (orang yang dicintainya dalam puisi tersebut) dan pada larik “Hanya sepotong diam yang hanya tak henti mencinta” yang maksudnya adalah sang penyair hanya bisa memendam perasaannya.
C.     Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang dominan dalam puisi ini adalah hiperbola, bisa dilihat dari larik pertama dan kedua “Aku mencintaimu sejak waktu, sejak bumi, sejak sukma, sejak bayi” dan “Aku mencintaimu sampai laut, sampai langit, sampai darah, sampai mati” sangat berlebihan .

D.    Rima dan Irama
Dalam puisi ini, penyair tidak menggunakan rima seperti a-a-a-a atau a-b-a-b, puisi ini tidak terikat rima. Namun di beberapa tempat puisi ini memiliki irama seperti pada larik pertama dan kedua puisi ini.
Feminisme
            Setelah membahas sedikit struktur dari puisi ini, selanjutnya kita akan melihat puisi ini dari segi feminismenya.
Wanita ingin dicintai apa adanya
            Dalam puisi tersebut, jelas bahwa perempuan ingin dicintai dengan apa adanya mereka, hal ini tergambar pada larik “Panggil aku cinta/ bukan, aku bukan wanita khayalanmu/. Kata panggil aku cinta adalah bukti bahwa perempuan ingin dicintai, dan kata /aku bukan wanita khayalanmu./ adalah bukti bahwa wanita ingin dicintai apa adanya, bukan seperti gambaran wanita yang ada dibenak banyak lelaki yang cantik bak model, putih seperti salju, anggun seperti putri, dll.

Wanita adalah sosok pecinta dalam diam
            Dan sosok wanita dalam puisi cinta tersebut digambarkan menjadi sosok yang sangat mencintai, namun karena sulit atau berinteraksi dengan orang yang dicintainya, keberadaannya jadi seperti ada atau tiada di mata orang yang dicintainya. Hal itu dikarenakan kebanyakan wanita mencintai pria hanya dalam diam atau tak berani mengungkapkan hal ini dijelaskan pada larik.” Sebab aku mungkin ada/ sebab aku mungkin hanya tiada/ sepotong diam yang hanya tak henti mencinta/.”
            Di Indonesia, rasanya tabu atau gengsi jika wanita yang menyatakan cinta terlebih dahulu. Kebanyakan wanita di Indonesia beranggapan bahwa menunggu memang sudah kodratnya wanita dan menyatakan cinta memang sudah kodratnya lelaki. Tradisi seperti itu yang membuat kebanyakan wanita lebih memilih untuk diam saat mencinta.
Meski begitu, wanita selalu teringat oleh orang yang dia cintai dimanapun dan kapanpun, hal ini tergambar pada larik “Setiap hari kucatat dan kupotret kau dalam batin/ Kau menempel di buku-buku, di televisi, di gedung dan panggung pertunjukan/ Juga pada angin dan debu pada nafasku.”

Puisi  Kedua “Kangen”

            Puisi kedua adalah puisi tentang kerinduan, dari judulnya sudah terlihat yaitu kangen.

KANGEN
Telah kutuliskan puisi-puisi itu
sejak usiamu 26 tahun
ketika pertama kali kita bertukar senyum
pada jarak pandang yang begitu dekat
Kau ingat,
saat kubisikkan mungkin aku tak perlu matahari,
bulan atau bintang lagi
cukup kau, cahaya yang Dia kirimkan untukku
Ah, apa kau masih menyimpan puisi-puisi itu?
Belasan tahun kemudian
aku masih menikmati
mengirimimu puisi
hingga hari ini
aku pun menjelma hujan yang enggan berhenti
di berandamu
bersama angin yang selalu kasmaran
Kau tahu, aku masih saja menatapmu
dengan mataku yang dulu
lelaki sederhana berhati samudera
yang selalu membawaku berlabuh padaNya
Pada berkali masa, kau pernah berkata,
“Aku tahu, Aku hanya ingin menikahi jiwamu selalu”
Helvy Tiana Rosa, Depok, 2008


A.    TEMA
Tema puisi ini adalah kerinduan, walau tidak ditulis secara tersurat tapi hal ini tergambar dengan jelas secara tersirat. Dan juga kita bisa melihat dari judul puisi ini yaitu “Kangen”. Dan juga biasanya orang yang rindu akan mengingat kenangan-kenangan yang  terjadi antara orang yang merindukan dan orang yang dirindukan. Dalam puisi ini, penyair mengingat-ingat kembali kenangan yang pernah dia lakukan kepada orang yang dirindukannya. Hal ini tertulis pada larik “Kau ingat/Saat kubisikkan mungkin aku tak perlu matahari/ Bulan atau bintang lagi/ Cukup kau, cahaya yang Dia kirimkan untukku.”
B.     Diksi
Diksi yang digunakan pada puisi ini sederhana namun indah. Tapi ada bagian yang dimana diksinya tidak seperti biasa yaitu pada larik “lelaki sederhana berhati samudera/ yang selalu membawaku berlabuh padaNya.” Disitu jelas menggunakan diksi yang tidak biasa dan itu indah.
C.     Gaya Bahasa
Dalam puisi ini ada majas perbandingan yaitu simile. Hal itu terlihat dalam larik “aku menjelma hujan”  dan ada juga hiperbola yaitu “lelaki sederhana berhati samudera” padahal yang dimaksud adalah berhati luas atau lapang atau juga bisa diartikan sabar.
D.    Rima dan Irama
Puisi ini tidak terlalu terikat dengan rima, namun ada bait dalam puisi tersebut yang menggunakan rima a-a-b-b yaitu pada bait “Kau tahu, aku masih saja menatapmu/ Dengan mataku yang dulu/ Lelaki sederhana berhati samudera/ Yang selalu membawaku berlabuh padaNya.”

Feminisme
Feminisme dalam puisi ini bisa kita lihat dari beberapa aspek yaitu:
Wanita membutuhkan lelaki dalam hidupnya sebagai  pemimpin
Ya, wanita membutuhkan  lelaki sebagai pemimpin. Hal ini bisa dilihat dari bait  “Kau ingat/Saat kubisikkan mungkin aku tak perlu matahari/ Bulan atau bintang lagi/ Cukup kau, cahaya yang Dia kirimkan untukku.”
Dalam bait itu, penulis menjelaskan kalau wanita tak perlu lagi apapun di dunia ini kecuali orang yang dituju (dalam puisi itu).  Dan kata “Cahaya”  bisa bermakna konotatif sebagai penerang atau pemandu .
Inilah mengapa dalam mengarungi bahtera rumah tangga, lelaki bertugas sebagai pengambil keputusan dan sebagai imam, sedangkan wanita sebagai pendamping.






Kesimpulan
            Dengan menggunakan pendekatan feminisme untuk mengkaji puisi Helvy Tiana Rosa yaitu “Cinta” dan “kangen, kita bisa tahu beberapa aspek mengenai wanita yang disiratkan helvy dalam karyanya.
Dalam puisi Cinta, helvy menunjukan bagaimana wanita saat jatuh cinta dimana dia memberitahu kita kalau wanita itu ingin dicintai apa adanya  dan biasanya wanita selalu mencintai pria secara diam-diam.
Dan dalam puisi kangen, helvy menunjukan kalau wanita membutuhkan sosok pemimpin dalam hidupnya yaitu laki-laki.


Artikel ini disusun oleh Rezza Budhi Prasetyo. jika ingin mengcopy harap sertakan sumber yaitu blog ini. dalam artikel ini terdapat  landasan teori didapat dari beberapa sumber berikut ini:

Daftar Pustaka

Suhita,S.(2010).Kajian Puisi.Jakarta
Rosa,H.T. (2012). Mata Ketiga Cinta. Jakarta: Asmanadia Publishing House
Esten, Mursal. 1995. Memahami Puisi. Bandung: Angkasa.
https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/kritik-sastra-feminisme/
http://ragambahasakita.blogspot.com/2015/01/about_29.html

ShareThis